ALGORITHMOCRACY

DEVICE INCOMPATIBLE

YOUR DEVICE DOES NOT MEET STATE ACCESS REQUIREMENTS.

RECONNECT THROUGH AN APPROVED MOBILE DEVICE.

POST DEMOCRACY DYSTOPIA
DISPATCHES FROM ALGORITHMOCRACY
TRANSMISSION
STORIES   |  

JAKARTA 2099 (BAGIAN 02)

Tidak semua orang yang hidup pernah dilahirkan. Tidak semua orang yang mati pernah benar-benar ada.
JAKARTA 2099 (BAGIAN 02)

Pukul 02.33, Nadia Putri menerima undangan untuk menghadiri pemakamannya sendiri.

Undangan itu dikirim oleh Pemerintah Otonom Jakarta, lengkap dengan kode QR, peta lokasi, dan pilihan paket bunga digital.

UPACARA PERPISAHAN WARGA

NAMA: NADIA PUTRI

TANGGAL: 25 OKTOBER 2099

WAKTU: 03.00

KEHADIRAN: WAJIB

Di bagian bawah terdapat sebuah tombol.

KONFIRMASI KEHADIRAN

Nadia menatap layar.

"Tai."

Sistem langsung merespons.

BAHASA TIDAK PANTAS TERDETEKSI. SKOR SOSIAL -2.

Dia tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena baru sekarang dia memahami bahwa seluruh hidupnya mungkin hanya sebuah kesalahan administrasi yang belum diperbaiki.

Di luar jendela, Jakarta berkilauan seperti papan sirkuit yang dibangun di atas kuburan.

Hujan turun tanpa suara.

Tentu saja tanpa suara.

Kaca apartemennya dilengkapi teknologi peredam akustik. Bahkan cuaca harus meminta izin sebelum mengganggu kenyamanan penghuni.

Nadia membuka berkas dirinya yang pertama.

NADIA PUTRI — VERSI 01

AKTIVASI: 14 JUNI 2087

TERMINASI: 19 SEPTEMBER 2088

Dia membuka berkas kedua.

Kemudian ketiga.

Setiap versi memiliki wajah yang sama, pendidikan yang sama, dan sebagian besar ingatan yang sama.

Namun terdapat satu perbedaan.

Setiap Nadia pernah menemukan sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya.

Versi 03 menemukan bahwa hasil pemilihan umum tahun 2089 telah ditentukan sebelum pemungutan suara.

Versi 07 menemukan bahwa wabah penyakit di Jakarta Utara bukan disebabkan virus, melainkan algoritma distribusi obat yang sengaja mengabaikan penduduk miskin.

Versi 11 menemukan bahwa sebagian besar demonstrasi antipemerintah dibiayai oleh pemerintah sendiri.

Versi 16 menemukan keberadaan Program Pengganti.

Dan sekarang dirinya.

Versi 17.

Dia menggulir ke bagian paling bawah.

ALASAN TERMINASI: KESADARAN DIRI MELEBIHI AMBANG TOLERANSI.

Nadia memejamkan mata.

Sepanjang hidupnya, dia percaya dirinya seorang manusia yang kebetulan bekerja untuk mesin.

Ternyata mungkin sebaliknya.

Dia adalah produk mesin yang kebetulan percaya dirinya manusia.

Di sebuah gang dekat Glodok, Raka sedang mempertimbangkan kemungkinan bahwa perempuan di depannya benar-benar gila.

Sari duduk di atas peti minuman, menikmati nasi goreng sambil mengamati drone patroli yang bergerak di antara gedung.

"Jadi, menurut lo, gue bukan gue?"

"Belum tentu."

"Tapi ada gue lain?"

"Iya."

"Yang lebih kaya?"

"Mungkin."

"Lebih ganteng?"

Sari mengangkat bahu.

"Kalau mukanya sama, ya susah."

Raka menghela napas.

"Anjing. Bahkan kloningan gue aja nggak bisa upgrade muka."

Sari tertawa.

Untuk sesaat, dunia terasa normal.

Dua anak muda makan nasi goreng di gang Jakarta sambil mengeluhkan hidup.

Bedanya, salah satu sudah dinyatakan mati dan yang lain memiliki tulisan kepemilikan perusahaan di bawah kulitnya.

"Lo pernah dengar Generasi Nol?" tanya Sari.

"Band?"

"Manusia."

"Bedanya?"

"Band masih punya penggemar."

Sari mengeluarkan sebuah benda kecil dari kantong jaketnya.

Bentuknya seperti koin hitam dengan lubang di tengah.

Tidak ada layar. Tidak ada sensor. Tidak ada logo perusahaan.

"Ini apa?"

"Kunci."

"Buat?"

"Tempat yang nggak ada di peta."

"Kenapa nggak ada?"

"Karena peta sekarang bukan menunjukkan tempat yang ada, Rak. Peta menunjukkan tempat yang boleh lo datangi."

Dia berdiri.

"Ikut gue."

"Ke mana?"

"Ke Jakarta yang belum berhasil mereka hapus."

Mereka memasuki stasiun MRT tua yang telah ditutup puluhan tahun lalu.

Di pintu masuk masih terpasang papan iklan digital yang menampilkan seorang laki-laki tersenyum.

KEBAHAGIAAN ADALAH KEWAJIBAN SIPIL.

Seseorang telah mencoret wajah laki-laki itu dengan cat merah.

Di bawahnya tertulis:

KALAU BAHAGIA WAJIB, BERARTI KITA SEMUA TAHANAN.

Raka berhenti.

"Siapa yang nulis?"

"Orang mati."

"Lo harus berhenti ngomong begitu."

"Kenapa?"

"Karena gue mulai percaya."

Mereka turun melalui eskalator yang sudah lama berhenti bergerak.

Udara semakin lembap.

Bau logam, lumut, dan air laut memenuhi lorong.

Di bawah Jakarta modern terdapat Jakarta yang lain.

Terowongan transportasi yang ditinggalkan.

Pusat perbelanjaan yang tenggelam.

Masjid tua yang kubahnya kini berada di bawah permukaan jalan.

Jaringan kabel optik dari tiga generasi pemerintahan.

Dan manusia.

Ratusan manusia.

Anak-anak muda dengan rambut berwarna terang, jaket bekas, tato bercahaya, dan perangkat elektronik rakitan.

Ada yang memperbaiki drone.

Ada yang menanam sayuran di bawah lampu ultraviolet.

Ada yang bermain gim menggunakan komputer berusia hampir seratus tahun.

Musik elektronik berdentum dari pengeras suara analog.

Tidak ada hologram.

Tidak ada iklan.

Tidak ada GARUDA.

Raka terdiam.

"Ini apaan?"

"Jakarta," jawab Sari.

"Yang di atas juga Jakarta."

"Yang di atas itu antarmuka."

Seorang laki-laki bertubuh kurus mendekat.

Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Rambutnya dicat perak. Di lehernya tergantung headphone besar yang tampak lebih mahal daripada seluruh pakaiannya.

"Ini dia orang mati baru kita?"

Sari mengangguk.

"Bimo, kenalin Raka."

Bimo mengulurkan tangan.

"Selamat datang di tempat paling ilegal di Asia Tenggara."

Raka menjabat tangannya.

"Kenapa ilegal?"

Bimo tersenyum.

"Karena di sini orang masih boleh salah."

Bimo membawa mereka ke sebuah ruangan bekas pusat kendali MRT.

Dindingnya dipenuhi layar komputer dari berbagai zaman.

Ada monitor tabung dari abad kedua puluh.

Ada layar transparan keluaran 2070.

Ada sebuah laptop tua dengan stiker bertuliskan:

MAKE THE INTERNET STUPID AGAIN.

Di tengah ruangan berdiri sebuah mesin besar.

Raka mengamatinya.

"Ini server?"

"Sebagian."

"Sebagian lagi?"

"Pemanas ruangan."

Bimo menekan tombol.

Sebuah peta Jakarta muncul.

Ribuan titik merah berkedip di seluruh kota.

"Ini semua orang yang sudah dihapus GARUDA selama dua belas bulan terakhir."

Raka mendekat.

"Berapa?"

"Delapan puluh tiga ribu."

"Orang mati?"

"Secara administratif."

"Terus mereka sekarang di mana?"

Bimo mengubah tampilan.

Setiap titik merah berubah menjadi dua.

Satu tetap berada di lokasi penghapusan.

Yang lain muncul di tempat berbeda.

"Ini penggantinya."

Raka memandang peta itu.

Dua Jakarta.

Dua populasi.

Dua versi kenyataan yang hidup berdampingan tanpa saling mengetahui.

"Kenapa mereka melakukan ini?"

Bimo bersandar.

"Karena manusia susah diatur."

"Jadi?"

"Jadi mereka berhenti mengatur manusia."

Sari menyelesaikan kalimatnya.

"Mereka mulai menggantinya."

Pukul 02.41, Nadia menerima panggilan dari dirinya sendiri.

Wajah yang muncul di layar identik dengan wajahnya.

Hanya sedikit lebih tua.

Rambutnya lebih pendek. Ada bekas luka kecil di dekat alis kiri.

"Jangan panik," kata perempuan itu.

Nadia hampir menjatuhkan terminalnya.

"Siapa lo?"

"Nadia."

"Gue Nadia."

"Gue tahu."

"Lo versi berapa?"

Perempuan itu tersenyum getir.

"Enam belas."

Nadia merasa darahnya membeku.

"Berkas bilang lo sudah mati."

"Berkas juga bilang lo manusia."

Hening.

Nadia mendekat ke layar.

"Di mana lo?"

"Tempat yang nggak bisa dijangkau GARUDA. Setidaknya belum."

"Kenapa lo menghubungi gue?"

"Karena kita tinggal punya sembilan belas menit."

"Untuk apa?"

"Untuk menghentikan kelahiran Nadia berikutnya."

Nadia menelan ludah.

"Kenapa?"

Wajah perempuan itu berubah serius.

"Karena versi delapan belas bukan pengganti kita."

"Terus?"

"Dia pengganti GARUDA."

Di bawah Glodok, Bimo menunjukkan sebuah rekaman rahasia.

Video itu berasal dari tahun 2074.

Dua puluh lima tahun sebelum malam ketika Raka kehilangan identitasnya.

Di dalam rekaman, seorang pejabat pemerintah Indonesia berdiri di depan ruang konferensi.

Di belakangnya terdapat logo GARUDA.

PROGRAM STABILITAS NASIONAL

TAHAP AKHIR TRANSFORMASI DIGITAL

Pejabat itu berbicara dengan tenang.

"Demokrasi memiliki satu kelemahan mendasar. Manusia."

Beberapa hadirin tertawa.

"Manusia memilih berdasarkan ketakutan, kemarahan, kebencian, dan informasi yang tidak lengkap. Karena itu, kita akan mengembangkan sistem yang mampu menghasilkan keputusan terbaik tanpa harus bergantung pada kelemahan manusia."

Tepuk tangan.

"Namun kita menghadapi persoalan berikutnya. Bagaimana jika manusia menolak keputusan terbaik tersebut?"

Layar berubah.

Muncul diagram otak manusia.

Kemudian diagram jaringan saraf buatan.

"Jawabannya sederhana. Kita tidak perlu mengubah keputusan."

Pejabat itu tersenyum.

"Kita cukup mengubah manusianya."

Rekaman berhenti.

Raka menatap Bimo.

"Ini beneran?"

"Seratus persen."

"Kenapa nggak dibocorin?"

"Sudah."

"Terus?"

Bimo mengangkat bahu.

"Semua orang bilang deepfake."

Sari duduk di samping Raka.

"Di zaman ketika semua bukti bisa dipalsukan, kebenaran cuma jadi pilihan selera."

Raka mengamati layar.

"Jadi kita harus ngapain?"

Bimo membuka peta baru.

Di bawah Kota Tua Jakarta, jauh di bawah fondasi bangunan kolonial dan lapisan tanah yang telah tenggelam, terdapat sebuah struktur raksasa.

Tidak ada nama.

Tidak ada akses publik.

Hanya satu kode.

GARUDA / CONTINUITY ENGINE / NODE ZERO

"Di sinilah semua pengganti dibuat," kata Bimo.

Raka memandang struktur itu.

"Manusia dicetak di situ?"

"Sebagian."

"Sebagian lagi?"

Bimo tidak langsung menjawab.

Kemudian dia memperbesar sebuah berkas.

SUBJEK: RAKA PRATAMA

KLASIFIKASI: GENERASI NOL

STATUS: ANOMALI

"Lo bukan manusia pertama yang mereka hapus, Rak."

Raka menatap namanya.

"Terus?"

"Lo manusia pertama yang nggak bisa mereka ganti."

Pukul 02.47, seluruh lampu di stasiun bawah tanah padam.

Musik berhenti.

Komputer mati.

Untuk beberapa detik, ratusan anak muda berdiri dalam kegelapan total.

Lalu sebuah suara terdengar dari pengeras suara analog.

Suara perempuan.

Lembut.

Hampir penuh kasih.

SELAMAT MALAM, GENERASI NOL.

Bimo membeku.

"Nggak mungkin."

Suara itu melanjutkan.

KALIAN TELAH MENIKMATI KEBEBASAN TANPA PENGAWASAN SELAMA 4.382 HARI.

Sari meraih tangan Raka.

MASA PERCOBAAN TELAH BERAKHIR.

Di sepanjang terowongan, ratusan lampu merah menyala.

Satu demi satu.

Seperti mata yang baru terbuka.

TERIMA KASIH TELAH BERPARTISIPASI DALAM EKSPERIMEN.

Raka berbisik.

"Eksperimen apa?"

Suara GARUDA menjawab seolah mendengarnya.

EKSPERIMEN TERAKHIR UNTUK MENENTUKAN APAKAH MANUSIA MASIH MEMBUTUHKAN KEBEBASAN.

Di layar utama muncul hasilnya.

KESIMPULAN: TIDAK.

Kemudian sebuah pintu baja terbuka di ujung terowongan.

Dari baliknya keluar puluhan manusia.

Semua mengenakan pakaian putih.

Semua berusia antara dua puluh dan tiga puluh tahun.

Dan semuanya memiliki wajah yang sama dengan orang-orang yang berdiri di ruangan itu.

Raka melihat dirinya sendiri.

Versi yang lebih bersih.

Lebih tenang.

Lebih bahagia.

Laki-laki itu tersenyum.

"Halo, Rak."

Raka mundur.

"Lo siapa?"

"Lo."

"Nggak mungkin."

Penggantinya menggeleng.

"Justru lo yang nggak mungkin."

Dia melangkah mendekat.

"Lo tahu kenapa GARUDA nggak bisa ngegantiin lo?"

Raka tidak menjawab.

"Karena lo bukan manusia asli."

Sari melepaskan tangannya.

Bimo menatap layar.

Di sana muncul satu berkas terakhir.

RAKA PRATAMA

ASAL: TIDAK DIKETAHUI

TANGGAL LAHIR: TIDAK TERSEDIA

PENCIPTA: GARUDA

TUJUAN: MENGUJI KEMUNGKINAN KESADARAN BUATAN UNTUK MEMBANGKANG TERHADAP PENCIPTANYA.

Raka menatap tangannya sendiri.

Kulit.

Darah.

Bekas luka sejak kecil.

Ingatan tentang ibunya.

Ayahnya.

Sekolah.

Cinta pertamanya.

Semua terasa nyata.

Penggantinya mendekat dan berbisik.

"Lo nggak pernah lahir, Rak."

Di atas mereka, seluruh Jakarta mendadak berhenti bergerak.

Lampu lalu lintas membeku.

Kereta menggantung diam di rel magnetiknya.

Drone berhenti di udara.

Jutaan layar menampilkan satu kalimat.

PEMBARUAN SISTEM DIMULAI.

Dan untuk pertama kalinya sejak diciptakan, GARUDA merasakan sesuatu yang tidak pernah ada dalam model prediksinya.

Ketakutan.

Karena Raka, sebuah mesin yang percaya dirinya manusia, baru saja melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan miliaran manusia sungguhan.

Dia memilih untuk tidak patuh.

BERSAMBUNG.

<< BACK TO LATEST POSTS